Tabloidinfopolri.id,

Musim kemarau yang hampir berkepanjangan kini melanda wilayah Kabupaten Barito Utara, membawa dampak nyata pada aliran Sungai Barito yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat setempat.

Air sungai menyusut drastis, hingga bebatuan dan hamparan pasir di pinggiran sungai kini tampak jelas terlihat dari permukaan, seolah membentang di tengah aliran yang biasanya deras.

Kondisi cuaca pun semakin memburuk, dengan kabut asap tebal yang menyelimuti langit dan seolah melingkupi seluruh wilayah Barito Utara, menutupi cahaya matahari dan membuat suasana siang hari menjadi suram.

Gabungan antara sungai yang kering dan udara yang tertutup kabut asap menjadi gambaran nyata betapa beratnya ujian alam yang sedang dihadapi masyarakat.

Di pinggiran Sungai Barito, tepatnya di kawasan Pasar Pendopo, keluh kesah warga mulai terdengar .

Supriadi, seorang warga yang bermukim di tepian sungai itu, menyampaikan keprihatinannya dengan penuh harap namun juga kecemasan.

"Sekarang ini air bersih pun susah didapatkan. Sungai-sungai mengering, dan air bersih harus kami beli terus. Padahal kami yang berpendapatan rendah ini, mencari uang pun sudah sangat sulit di tengah kondisi seperti ini.

Kalau bisa, kami sangat berharap agar pemerintah daerah berkenan turun tangan membantu kami, terutama menyangkut kesulitan mendapatkan air bersih ini." ujar Bapak Supriadi, warga pinggiran sungai Barito.

Air bersih adalah kebutuhan paling dasar bagi kehidupan manusia. Ketika sungai yang selama ini menjadi sumber kehidupan mulai mengering, dan harganya harus dibeli dengan uang yang sulit didapat, maka beban berat bertumpu pada pundak masyarakat kecil.

Harapan warga sederhana , di tengah kemarau dan kabut asap yang menyelimuti, bantuan dan perhatian dari pemerintah daerah sungguh sangat dinantikan, agar mereka tetap bisa memenuhi kebutuhan hidup yang paling mendasar.

Semoga keluh kesah ini sampai ke telinga para pemangku kebijakan, dan tangan bantuan segera terulur sebelum keadaan semakin sulit.

Karena air adalah hak semua orang, bukan kemewahan yang harus dibeli mahal oleh mereka yang berpenghasilan pas-pasan.

(Henry, A)